Senin, 01 November 2010

Catatan Koas : Usia Kehamilan

"Pasien ini, primigravida usia 17 tahun! Tadi setelah VT (Vaginal Toucher) udah bukaan 4," Kira-kira itu yang dibilang temen saat pertukaran jaga kamar bersalin.

Di seberang ruangan jaga terdengar suara perempuan merintih, berteriak, mengaduh. Saya tengok sejenak, benar masih sangat muda. Saya melihat ke rekam medis suaminya juga baru berusia 22 tahun.

"Bu, tahan ya Bu, jangan mengejan! Nanti sakitnya makin lama. Mending Ibunya tarik nafas panjang, keluarkan perlahan, atau banyakin istighfar," Sering kali diajarin seperti itu, tapi sepertinya tidak didengarkan oleh si Ibu muda ini,

"Sussss....!!"Teriak si Ibu muda. Kemudian mengejan (lagi).

Jam 09.00 WIB dokter jaga VK datang visit kemudian melakukan VT, memecahkan amnion (air ketuban).

"Udah bukaan 6 dik, nanti observasi 4 jam ya!"

Dasarnya masih muda, masih labil. Ya, memang sakit tapi saya kok jarang yang seperti ibu ini. Sampai Bidan senior bilang, "Ibu mau sakitnya sebentar apa lama? Kalo mengejan terus nanti makin lama bayi Ibu keluar!"

Tetap saja nggak ngaruh akhirnya, memang bengkak portio-nya, bukaannya macet.
*****

Sebenarnya saya kepikiran sama usia hamil yang tepat, karena secara emosional usia 17 tahun itu masihlah sangat labil. Tidak--atau belum tahu mana yang sebenarnya untuk kebaikkannya mana yang hanya mengikuti emosi sejenaknya.

Jika dibandingkan sama ibu-ibu dengan usia 20 tahun ke atas, mereka lebih terlihat tenang dan bisa mengatur emosi, meskipun kesakitan dapat dipindahkan dalam hal yang lebih positif.

Jadi ingat sama catatan sebelumnya ibu yang memiliki kekurangan dalam hal biaya. Dia dengan senang hati menahan rasa sakitnya untuk sekedar menghindari persalinan dengan sesar.

Meskipun setiap orang memiliki haknya masing-masing dalam menentukan kehidupan mereka, tapi ada kalanya memikirkan dengan tepat apa mereka bener-bener siap untuk menjalaninya.

Just think before you act.. :)

***catatan sambil jaga malam. :D

Sabtu, 30 Oktober 2010

Keluarga dan Uang

Kamar Bersalin...

"Mbak, kalau bersalin disini, kira-kira berapa ya biayanya?" tanya seorang ibu terhadap salah satu calon bidan di kamar bersalin.

"Nanti ya, Bu saya tanyakan ke Bidan yang piket,"

"Iya, Mbak, soalnya suami saya cuma tukang parkir!" lalu terdiam. Menunggu.

"Sekitar 700-an Bu, itupun kalau Ibu melahirkan secara normal," sang Ibu terdiam kembali, "Untuk itu, Bu, Ibu harus menurut kalo kami bilang mengejan Ibu mengejan, kalo belum saatnya Ibu jangan mengejan,"

"Iya, Mbak..."

Beberapa jam sebelum persalinan,

"Pak, untuk persalinan Ibu dibutuhkan underpad untuk mengalasi Ibu, tapi biayanya berbeda, Pak, sekitar 50 ribuan, "

"Mbak, kalo saya ambil kain di rumah dulu, gimana?"

"Oh, Iya, Ndak papa, sebelumnya Bapak tanda tanganin ini dulu, prosedur perawatan,"

"Nanti ya, Mbak. Sebelum saya pastikan memang akan melahirkan disini,"

Tersenyum. Terdiam.

Sang Bapak kembali, sambil membawa uang recehan yang dibungkus plastik.

"Ini cukup nggak, ya Mbak?"

Kami terdiam, ngilu...
*****

Bangsal Kandungan dan Kebidanan..

Seorang pasien, 45 tahun dengan Blighted Ovum (rahim kosong--Informasi langsung ngelink aja).

"Sudah punya putra berapa, Bu?" saat follow up sabtu pagi.

"Tiga, mas.. Ini yang jaga yang ketiga, " Sang Ibu ditungguin bocah SD kelas 5 SD.

"Anak pertama dan kedua usia berapa, Bu?"

"Anak pertama setelah melahirkan meninggal, Mas. Nah kalo yang kedua baru SMP!"

"Sudah siap untuk kuret, Bu?"

"Siap, mas.. "

Selang beberapa jam, si Ibu mengalami pre-shock, mukanya sudah pucat, tekanan darahnya sudah menurun, nadinya mulai lemah. Ibu kemudian dipindahkan ke ruang tindakan.

Sang anak menunggu di depan ruang tindakan. Sambil dengan muka cemas, dan pandangan menerawang.

"Ayahmu mana, dik?"

"Di Jakarta, Mas'"

"Ndak ke Salatiga?"

"Baru 12 hari, Mas. Biasanya Bapak baru pulang setelah dua bulan,"

Terdiam. Kelu.

"Mas, Ibu katanya perdarahan lagi," ujar sang anak sambil dengan perasaan khawatir.

"Mas Koas, bilang sama dr. A, pasien kuretnya pre-shock dan sekarang udah perdarahan lagi,"

Setelah proses kuret, sang dokter bilang,

"Ibu ini harus ditransfusi 1 kolf,"

"Iya, dok..."

Kami bingung siapa yang akan mencarikan darah untuk si Ibu, sementara yang jaga masih dibawah umur, kakaknya juga hanya berstatuskan siswa SMP.

"Dik, di Salatiga ada saudara ndak?"

"Ndak ada, mas.. " Dia terdiam, "Tapi, kayaknya sih ada, mas.. Cuman, Ibu yang tahu.."

Sementara sang Ibu masih dalam kondisi tertidur setelah anastesi.

*****

Senin, 25 Oktober 2010

Obsgyn Day 1

Ke-HERI-an (HEboh sendiRI) melanda asrama, ya, hari pertama menjalani bagian masing-masing, dan karena ini hari senin ada upacara di rumah sakit.

Katanya ada Direktur baru, perempuan pengganti direktur lama yang kini menjabat di bagian KEMENKES di Jakarta. Jadilah saya sedikit penasaran bagaimana bentukkan direktur baru ini. :)

Hari ini kebagian bangsal kandungan dari jam 7 pagi - 7 malam, 12 jam full, katanya sih kalau Bangsal-Full itu ndak begitu capek, karena ndak ada kerjaan yang berat.

Emang sih, pasiennya tenang, cuma ada 5, post-SC, post-partus normal, post laparatomy e.c Kista, Post-Myektomi, post Curretage, dan serotinus. Tapi justru karena gak ada kerjaan jadi melelahkan, mungkin karena ada bidan yang katanya paling harus diwaspadai.

Dan saat jadwal jagaku berakhir, oOoh senangnya hati saya! Langsung pulang, makan, minum obat pusing, sholat, dan tidur. Hari esok masih menunggu, Valmer Kamer (Kamar Bersalin) sudah menunggu esok hari.

Obsgyn hari pertama terlewati.. Bismillah untuk hari ini. :)

Minggu, 24 Oktober 2010

Sajak Kehilangan

DIA hilang,
Menghilang...
Semakin menghilang,
terus menghilang.

Sedang aku menunggu,
terpaku,
terdiam,
kemudian menangis.

Lalu, sampai kapan?

Sabtu, 23 Oktober 2010

Tidak Perlu Memaksakan

Ada seorang teman yang giat berolahraga, setiap harinya setiap habis subuh sudah bersiap dengan seragamnya untuk berlari mengelilingi Alun-Alun Utara, Yogyakarta. Katanya kita harus rajin berolahraga.

Kemarin dia memutari Ringroad dengan menggunakan sepeda yang dia pinjam dari seorang teman. Katanya cuma dua jam, kita bisa memutari Yogyakarta melalui Ringroad.

Setelah itu dia tidak dapat menolak bahwa tubuhnya lelah, tubuhnya tidak bisa terforsir tiap harinya. Olah raga itu baik, teratur tapi alangkah lebih baik menentukan jadwal yang tepat tidak perlu setiap hari, ataupun memerlukan latihan berat untuk menyebutnya Olah raga.

Apalagi ketika masih sakit tetap memaksakan untuk olah raga, "Justru karena sakit, kita harus memaksakan tubuh kita" saya cuma bisa tersenyum sambil berucap, "Namanya sakit, itu berarti tubuh butuh istirahat. Jika tetap memaksakan olah raga macam itu, kapan mau sembuh?"

So, biasa sajalah saat berolahraga, tahu kapan membutuhkan dan tahu kapan menghentikan sementara.

Kembali Memulai Stase

Rasanya sedih, ketika menyadari ternyata liburan telah berakhir kemudian harus kembali ke rutinitas awal sebagai koas. Kembali setiap hari menyambangi rumah sakit untuk bertemu pasien. Bukan, bukan tidak menyukai bertemu pasien, tapi karena merasa liburan yang ada kurang panjang.

Liburan belum terpotong ngurus ini-itu, dijalan, tidur... Uh, seminggu lagi, ingin sekali liburan seminggu lagi. Apalagi tahu kalau angkatan kami tidak terkena wajib internship selama 1 tahun. Berarti tidak menunggu terlalu lama untuk jadi dokter.

Stase berikutnya Obsgyn, stase melelahkan. Ya, karena proses kelahiran tidak dapat diduga kapan, dan tidak dapat untuk ditunda. Jam berapapun, kapanpun harus siap resiko untuk memangkas habis waktu tidur. Ya Allah kuatkanlah...

Belum lagi sistem kerja yang belum jelas, mungkin karena ini pertama kalinya memasuki bagian ini masih terasa janggal, aneh dan sejujurnya gugup. Kalau kata teman saya selalu seperti ini jika memasuki bagian baru, padahal saya juga tidak menyukai perasaan seperti ini. Ingin normal saja, santai menjalani semua ini.

Ya Allah, semoga semuanya dimudahkan, orang-orang dalam bagian ini baik terhadap saya, saya mendapatkan ilmu dan bisa lulus dengan mudah. Amiin.

Jumat, 22 Oktober 2010

Promosi Negeri Melalui Media Sosial


Jika merunut pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, Media memiliki arti [n] (1) alat; (2) alat (sarana) komunikasi spt koran, majalah, radio, televisi, film, poster, dan spanduk; (3) yg terletak di antara dua pihak (orang, golongan, dsb): wayang bisa dipakai sbg -- pendidikan; (4) perantara; penghubung.

Sementara sosial mempunyai pengertian [a] (1) berkenaan dng masyarakat: perlu adanya komunikasi -- dl usaha menunjang pembangunan ini; (2) cak suka memperhatikan kepentingan umum (suka menolong, menderma, dsb):

Jadi, kalau disimpulkan secara bebas Media Sosial berati alat komunikasi antara dua pihak (baik perseorangan maupun golongan) ditujukan sebagai penunjang pembangunan dan kepentingan umum. Sedangkan Wikipedia mengartikan Media Sosial sebuah media online dimana para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliput blog, sosial network atau jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual.

Berarti sebenarnya Media sosial itu sangatlah luas, dengan keleluasaannya maka efek yang ditimbulkan dari penggunaan media ini pun sangat bermacam. Jika tidak mawas diri, maka media sosial hanya menjadi ajang pembuktian diri akan eksistensi, bahwa seseorang itu mampu dikenal didunia dimana bisa saja didunia nyata dirinya sama sekali tidak dikenal, lebih parah lagi media sosial bisa dipakai untuk ajang penipuan dan cara keji membohongi pasangan untuk berselingkuh. nauzubillah.

Tapi jika bisa menggunakannya dengan bijak dan sewajarnya, maka media sosial bisa menjadikan alat untuk mendewasakan diri, dengan lebih mengetahui bagaimana bersosialisasi dengan orang-orang tidak pernah kita temui, dan hanya dari bahasa tulisan yang memiliki berbagai makna, tergantung bagaimana sang pembaca memahami tulisannya.

Cukuplah fungsi media sosial untuk kebutuhan pribadi, karena fungsinya lebih luas daripada hanya untuk memenuhi kebutuhan pribadi itu sendiri. Dari media sosial kita bisa mengabarkan, mengajar, berbagi, dan merasakan.

Kita lihat bagaimana sebuah media sosial memiliki efek yang sangat kuat dalam mengabarkan, karena ternyata informasi melewati blog sering dijadikan acuan dalam suatu tulisan, meskipun dengan tingkat validasi yang terkadang rendah, namun ternyata blog sebagai media sosial lebih menarik dibandingkan teks book dengan bahasa yang kaku.

Orang jadi senang untuk membaca, karena lebih mudah memahami, dan kemudian mengabarkan kesekitarnya. Berbeda dengan kisah Prita dan salah satu RS yang katanya menyandang gelar Internasional. Bagaimana media sosial dapat menghimpun opini publik melebihi jika kita menonton televisi--yang saat ini menurut saya begitu lebaynya.

Kita tahu masalah Prita dari media sosial, paham, mengerti dari sisi lain sebuah kelalaian pihak rumah sakit. Lebih jauh lagi, media sosial sekarang telah dijadikan sarana kampanye para calon pemegang tampu kekuasaan, liat saja kemudian banyak yang membuat situs-situs, kelompok, grup tentang kelebihan-kelebihan Balon (Bakal Calon), inginnya tidak hanya mencantumkan kelebihan, sekali-kali kekurangan dong!

Dan, ada satu sisi dari media sosial yang sebenarnya masih kurang tereksplorasi dengan baik adalah pemanfaatan media sosial sebagai sarana publikasi Indonesia terhadap negara luas, karena seringnya media sosial diartikan sebagai arena pribadi sehingga fungsi promosi Indonesia menjadi terasa kurang.

Coba jika setiap orang yang memiliki sarana media sosial, menuliskan tentang Indonesia, apa yang bangsa ini punya, potensi-potensi yang dimilikinya bisa tentang kekayaan alamnya yang indah, kesenian, tradisi, budaya.

Kemudian dipublikasikan secara umum, lebih baik lagi dalam bahasa internasional (baca inggris) sehingga ketika seseorang memasukkan kata indonesia, atau key words lain dalam mesin pencarian Google, maka langsung dapat tertuju pada keindahan dan potensi Indonesia. Dengan bahasa sederhana, menarik, dan to the point maka akan lebih mengena dihati wisatawan.

Dan Indonesia insya Allah semakin dikenal didunia luar sebagai bangsa yang indah. :)

Tulisan sederhana ini insyaAllah diikutkan dilombanya XL di Pesta Blogger 2010 dengan tema Pemanfaatan Media Sosial untuk Indonesia