"Pasien ini, primigravida usia 17 tahun! Tadi setelah VT (Vaginal Toucher) udah bukaan 4," Kira-kira itu yang dibilang temen saat pertukaran jaga kamar bersalin.
Di seberang ruangan jaga terdengar suara perempuan merintih, berteriak, mengaduh. Saya tengok sejenak, benar masih sangat muda. Saya melihat ke rekam medis suaminya juga baru berusia 22 tahun.
"Bu, tahan ya Bu, jangan mengejan! Nanti sakitnya makin lama. Mending Ibunya tarik nafas panjang, keluarkan perlahan, atau banyakin istighfar," Sering kali diajarin seperti itu, tapi sepertinya tidak didengarkan oleh si Ibu muda ini,
"Sussss....!!"Teriak si Ibu muda. Kemudian mengejan (lagi).
Jam 09.00 WIB dokter jaga VK datang visit kemudian melakukan VT, memecahkan amnion (air ketuban).
"Udah bukaan 6 dik, nanti observasi 4 jam ya!"
Dasarnya masih muda, masih labil. Ya, memang sakit tapi saya kok jarang yang seperti ibu ini. Sampai Bidan senior bilang, "Ibu mau sakitnya sebentar apa lama? Kalo mengejan terus nanti makin lama bayi Ibu keluar!"
Tetap saja nggak ngaruh akhirnya, memang bengkak portio-nya, bukaannya macet.
Di seberang ruangan jaga terdengar suara perempuan merintih, berteriak, mengaduh. Saya tengok sejenak, benar masih sangat muda. Saya melihat ke rekam medis suaminya juga baru berusia 22 tahun.
"Bu, tahan ya Bu, jangan mengejan! Nanti sakitnya makin lama. Mending Ibunya tarik nafas panjang, keluarkan perlahan, atau banyakin istighfar," Sering kali diajarin seperti itu, tapi sepertinya tidak didengarkan oleh si Ibu muda ini,
"Sussss....!!"Teriak si Ibu muda. Kemudian mengejan (lagi).
Jam 09.00 WIB dokter jaga VK datang visit kemudian melakukan VT, memecahkan amnion (air ketuban).
"Udah bukaan 6 dik, nanti observasi 4 jam ya!"
Dasarnya masih muda, masih labil. Ya, memang sakit tapi saya kok jarang yang seperti ibu ini. Sampai Bidan senior bilang, "Ibu mau sakitnya sebentar apa lama? Kalo mengejan terus nanti makin lama bayi Ibu keluar!"
Tetap saja nggak ngaruh akhirnya, memang bengkak portio-nya, bukaannya macet.
*****
Sebenarnya saya kepikiran sama usia hamil yang tepat, karena secara emosional usia 17 tahun itu masihlah sangat labil. Tidak--atau belum tahu mana yang sebenarnya untuk kebaikkannya mana yang hanya mengikuti emosi sejenaknya.
Jika dibandingkan sama ibu-ibu dengan usia 20 tahun ke atas, mereka lebih terlihat tenang dan bisa mengatur emosi, meskipun kesakitan dapat dipindahkan dalam hal yang lebih positif.
Jadi ingat sama catatan sebelumnya ibu yang memiliki kekurangan dalam hal biaya. Dia dengan senang hati menahan rasa sakitnya untuk sekedar menghindari persalinan dengan sesar.
Meskipun setiap orang memiliki haknya masing-masing dalam menentukan kehidupan mereka, tapi ada kalanya memikirkan dengan tepat apa mereka bener-bener siap untuk menjalaninya.
Just think before you act.. :)
***catatan sambil jaga malam. :D
