Senin, 01 November 2010

Catatan Koas : Usia Kehamilan

"Pasien ini, primigravida usia 17 tahun! Tadi setelah VT (Vaginal Toucher) udah bukaan 4," Kira-kira itu yang dibilang temen saat pertukaran jaga kamar bersalin.

Di seberang ruangan jaga terdengar suara perempuan merintih, berteriak, mengaduh. Saya tengok sejenak, benar masih sangat muda. Saya melihat ke rekam medis suaminya juga baru berusia 22 tahun.

"Bu, tahan ya Bu, jangan mengejan! Nanti sakitnya makin lama. Mending Ibunya tarik nafas panjang, keluarkan perlahan, atau banyakin istighfar," Sering kali diajarin seperti itu, tapi sepertinya tidak didengarkan oleh si Ibu muda ini,

"Sussss....!!"Teriak si Ibu muda. Kemudian mengejan (lagi).

Jam 09.00 WIB dokter jaga VK datang visit kemudian melakukan VT, memecahkan amnion (air ketuban).

"Udah bukaan 6 dik, nanti observasi 4 jam ya!"

Dasarnya masih muda, masih labil. Ya, memang sakit tapi saya kok jarang yang seperti ibu ini. Sampai Bidan senior bilang, "Ibu mau sakitnya sebentar apa lama? Kalo mengejan terus nanti makin lama bayi Ibu keluar!"

Tetap saja nggak ngaruh akhirnya, memang bengkak portio-nya, bukaannya macet.
*****

Sebenarnya saya kepikiran sama usia hamil yang tepat, karena secara emosional usia 17 tahun itu masihlah sangat labil. Tidak--atau belum tahu mana yang sebenarnya untuk kebaikkannya mana yang hanya mengikuti emosi sejenaknya.

Jika dibandingkan sama ibu-ibu dengan usia 20 tahun ke atas, mereka lebih terlihat tenang dan bisa mengatur emosi, meskipun kesakitan dapat dipindahkan dalam hal yang lebih positif.

Jadi ingat sama catatan sebelumnya ibu yang memiliki kekurangan dalam hal biaya. Dia dengan senang hati menahan rasa sakitnya untuk sekedar menghindari persalinan dengan sesar.

Meskipun setiap orang memiliki haknya masing-masing dalam menentukan kehidupan mereka, tapi ada kalanya memikirkan dengan tepat apa mereka bener-bener siap untuk menjalaninya.

Just think before you act.. :)

***catatan sambil jaga malam. :D

Sabtu, 30 Oktober 2010

Keluarga dan Uang

Kamar Bersalin...

"Mbak, kalau bersalin disini, kira-kira berapa ya biayanya?" tanya seorang ibu terhadap salah satu calon bidan di kamar bersalin.

"Nanti ya, Bu saya tanyakan ke Bidan yang piket,"

"Iya, Mbak, soalnya suami saya cuma tukang parkir!" lalu terdiam. Menunggu.

"Sekitar 700-an Bu, itupun kalau Ibu melahirkan secara normal," sang Ibu terdiam kembali, "Untuk itu, Bu, Ibu harus menurut kalo kami bilang mengejan Ibu mengejan, kalo belum saatnya Ibu jangan mengejan,"

"Iya, Mbak..."

Beberapa jam sebelum persalinan,

"Pak, untuk persalinan Ibu dibutuhkan underpad untuk mengalasi Ibu, tapi biayanya berbeda, Pak, sekitar 50 ribuan, "

"Mbak, kalo saya ambil kain di rumah dulu, gimana?"

"Oh, Iya, Ndak papa, sebelumnya Bapak tanda tanganin ini dulu, prosedur perawatan,"

"Nanti ya, Mbak. Sebelum saya pastikan memang akan melahirkan disini,"

Tersenyum. Terdiam.

Sang Bapak kembali, sambil membawa uang recehan yang dibungkus plastik.

"Ini cukup nggak, ya Mbak?"

Kami terdiam, ngilu...
*****

Bangsal Kandungan dan Kebidanan..

Seorang pasien, 45 tahun dengan Blighted Ovum (rahim kosong--Informasi langsung ngelink aja).

"Sudah punya putra berapa, Bu?" saat follow up sabtu pagi.

"Tiga, mas.. Ini yang jaga yang ketiga, " Sang Ibu ditungguin bocah SD kelas 5 SD.

"Anak pertama dan kedua usia berapa, Bu?"

"Anak pertama setelah melahirkan meninggal, Mas. Nah kalo yang kedua baru SMP!"

"Sudah siap untuk kuret, Bu?"

"Siap, mas.. "

Selang beberapa jam, si Ibu mengalami pre-shock, mukanya sudah pucat, tekanan darahnya sudah menurun, nadinya mulai lemah. Ibu kemudian dipindahkan ke ruang tindakan.

Sang anak menunggu di depan ruang tindakan. Sambil dengan muka cemas, dan pandangan menerawang.

"Ayahmu mana, dik?"

"Di Jakarta, Mas'"

"Ndak ke Salatiga?"

"Baru 12 hari, Mas. Biasanya Bapak baru pulang setelah dua bulan,"

Terdiam. Kelu.

"Mas, Ibu katanya perdarahan lagi," ujar sang anak sambil dengan perasaan khawatir.

"Mas Koas, bilang sama dr. A, pasien kuretnya pre-shock dan sekarang udah perdarahan lagi,"

Setelah proses kuret, sang dokter bilang,

"Ibu ini harus ditransfusi 1 kolf,"

"Iya, dok..."

Kami bingung siapa yang akan mencarikan darah untuk si Ibu, sementara yang jaga masih dibawah umur, kakaknya juga hanya berstatuskan siswa SMP.

"Dik, di Salatiga ada saudara ndak?"

"Ndak ada, mas.. " Dia terdiam, "Tapi, kayaknya sih ada, mas.. Cuman, Ibu yang tahu.."

Sementara sang Ibu masih dalam kondisi tertidur setelah anastesi.

*****

Senin, 25 Oktober 2010

Obsgyn Day 1

Ke-HERI-an (HEboh sendiRI) melanda asrama, ya, hari pertama menjalani bagian masing-masing, dan karena ini hari senin ada upacara di rumah sakit.

Katanya ada Direktur baru, perempuan pengganti direktur lama yang kini menjabat di bagian KEMENKES di Jakarta. Jadilah saya sedikit penasaran bagaimana bentukkan direktur baru ini. :)

Hari ini kebagian bangsal kandungan dari jam 7 pagi - 7 malam, 12 jam full, katanya sih kalau Bangsal-Full itu ndak begitu capek, karena ndak ada kerjaan yang berat.

Emang sih, pasiennya tenang, cuma ada 5, post-SC, post-partus normal, post laparatomy e.c Kista, Post-Myektomi, post Curretage, dan serotinus. Tapi justru karena gak ada kerjaan jadi melelahkan, mungkin karena ada bidan yang katanya paling harus diwaspadai.

Dan saat jadwal jagaku berakhir, oOoh senangnya hati saya! Langsung pulang, makan, minum obat pusing, sholat, dan tidur. Hari esok masih menunggu, Valmer Kamer (Kamar Bersalin) sudah menunggu esok hari.

Obsgyn hari pertama terlewati.. Bismillah untuk hari ini. :)

Minggu, 24 Oktober 2010

Sajak Kehilangan

DIA hilang,
Menghilang...
Semakin menghilang,
terus menghilang.

Sedang aku menunggu,
terpaku,
terdiam,
kemudian menangis.

Lalu, sampai kapan?

Sabtu, 23 Oktober 2010

Tidak Perlu Memaksakan

Ada seorang teman yang giat berolahraga, setiap harinya setiap habis subuh sudah bersiap dengan seragamnya untuk berlari mengelilingi Alun-Alun Utara, Yogyakarta. Katanya kita harus rajin berolahraga.

Kemarin dia memutari Ringroad dengan menggunakan sepeda yang dia pinjam dari seorang teman. Katanya cuma dua jam, kita bisa memutari Yogyakarta melalui Ringroad.

Setelah itu dia tidak dapat menolak bahwa tubuhnya lelah, tubuhnya tidak bisa terforsir tiap harinya. Olah raga itu baik, teratur tapi alangkah lebih baik menentukan jadwal yang tepat tidak perlu setiap hari, ataupun memerlukan latihan berat untuk menyebutnya Olah raga.

Apalagi ketika masih sakit tetap memaksakan untuk olah raga, "Justru karena sakit, kita harus memaksakan tubuh kita" saya cuma bisa tersenyum sambil berucap, "Namanya sakit, itu berarti tubuh butuh istirahat. Jika tetap memaksakan olah raga macam itu, kapan mau sembuh?"

So, biasa sajalah saat berolahraga, tahu kapan membutuhkan dan tahu kapan menghentikan sementara.

Kembali Memulai Stase

Rasanya sedih, ketika menyadari ternyata liburan telah berakhir kemudian harus kembali ke rutinitas awal sebagai koas. Kembali setiap hari menyambangi rumah sakit untuk bertemu pasien. Bukan, bukan tidak menyukai bertemu pasien, tapi karena merasa liburan yang ada kurang panjang.

Liburan belum terpotong ngurus ini-itu, dijalan, tidur... Uh, seminggu lagi, ingin sekali liburan seminggu lagi. Apalagi tahu kalau angkatan kami tidak terkena wajib internship selama 1 tahun. Berarti tidak menunggu terlalu lama untuk jadi dokter.

Stase berikutnya Obsgyn, stase melelahkan. Ya, karena proses kelahiran tidak dapat diduga kapan, dan tidak dapat untuk ditunda. Jam berapapun, kapanpun harus siap resiko untuk memangkas habis waktu tidur. Ya Allah kuatkanlah...

Belum lagi sistem kerja yang belum jelas, mungkin karena ini pertama kalinya memasuki bagian ini masih terasa janggal, aneh dan sejujurnya gugup. Kalau kata teman saya selalu seperti ini jika memasuki bagian baru, padahal saya juga tidak menyukai perasaan seperti ini. Ingin normal saja, santai menjalani semua ini.

Ya Allah, semoga semuanya dimudahkan, orang-orang dalam bagian ini baik terhadap saya, saya mendapatkan ilmu dan bisa lulus dengan mudah. Amiin.

Jumat, 22 Oktober 2010

Promosi Negeri Melalui Media Sosial


Jika merunut pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, Media memiliki arti [n] (1) alat; (2) alat (sarana) komunikasi spt koran, majalah, radio, televisi, film, poster, dan spanduk; (3) yg terletak di antara dua pihak (orang, golongan, dsb): wayang bisa dipakai sbg -- pendidikan; (4) perantara; penghubung.

Sementara sosial mempunyai pengertian [a] (1) berkenaan dng masyarakat: perlu adanya komunikasi -- dl usaha menunjang pembangunan ini; (2) cak suka memperhatikan kepentingan umum (suka menolong, menderma, dsb):

Jadi, kalau disimpulkan secara bebas Media Sosial berati alat komunikasi antara dua pihak (baik perseorangan maupun golongan) ditujukan sebagai penunjang pembangunan dan kepentingan umum. Sedangkan Wikipedia mengartikan Media Sosial sebuah media online dimana para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliput blog, sosial network atau jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual.

Berarti sebenarnya Media sosial itu sangatlah luas, dengan keleluasaannya maka efek yang ditimbulkan dari penggunaan media ini pun sangat bermacam. Jika tidak mawas diri, maka media sosial hanya menjadi ajang pembuktian diri akan eksistensi, bahwa seseorang itu mampu dikenal didunia dimana bisa saja didunia nyata dirinya sama sekali tidak dikenal, lebih parah lagi media sosial bisa dipakai untuk ajang penipuan dan cara keji membohongi pasangan untuk berselingkuh. nauzubillah.

Tapi jika bisa menggunakannya dengan bijak dan sewajarnya, maka media sosial bisa menjadikan alat untuk mendewasakan diri, dengan lebih mengetahui bagaimana bersosialisasi dengan orang-orang tidak pernah kita temui, dan hanya dari bahasa tulisan yang memiliki berbagai makna, tergantung bagaimana sang pembaca memahami tulisannya.

Cukuplah fungsi media sosial untuk kebutuhan pribadi, karena fungsinya lebih luas daripada hanya untuk memenuhi kebutuhan pribadi itu sendiri. Dari media sosial kita bisa mengabarkan, mengajar, berbagi, dan merasakan.

Kita lihat bagaimana sebuah media sosial memiliki efek yang sangat kuat dalam mengabarkan, karena ternyata informasi melewati blog sering dijadikan acuan dalam suatu tulisan, meskipun dengan tingkat validasi yang terkadang rendah, namun ternyata blog sebagai media sosial lebih menarik dibandingkan teks book dengan bahasa yang kaku.

Orang jadi senang untuk membaca, karena lebih mudah memahami, dan kemudian mengabarkan kesekitarnya. Berbeda dengan kisah Prita dan salah satu RS yang katanya menyandang gelar Internasional. Bagaimana media sosial dapat menghimpun opini publik melebihi jika kita menonton televisi--yang saat ini menurut saya begitu lebaynya.

Kita tahu masalah Prita dari media sosial, paham, mengerti dari sisi lain sebuah kelalaian pihak rumah sakit. Lebih jauh lagi, media sosial sekarang telah dijadikan sarana kampanye para calon pemegang tampu kekuasaan, liat saja kemudian banyak yang membuat situs-situs, kelompok, grup tentang kelebihan-kelebihan Balon (Bakal Calon), inginnya tidak hanya mencantumkan kelebihan, sekali-kali kekurangan dong!

Dan, ada satu sisi dari media sosial yang sebenarnya masih kurang tereksplorasi dengan baik adalah pemanfaatan media sosial sebagai sarana publikasi Indonesia terhadap negara luas, karena seringnya media sosial diartikan sebagai arena pribadi sehingga fungsi promosi Indonesia menjadi terasa kurang.

Coba jika setiap orang yang memiliki sarana media sosial, menuliskan tentang Indonesia, apa yang bangsa ini punya, potensi-potensi yang dimilikinya bisa tentang kekayaan alamnya yang indah, kesenian, tradisi, budaya.

Kemudian dipublikasikan secara umum, lebih baik lagi dalam bahasa internasional (baca inggris) sehingga ketika seseorang memasukkan kata indonesia, atau key words lain dalam mesin pencarian Google, maka langsung dapat tertuju pada keindahan dan potensi Indonesia. Dengan bahasa sederhana, menarik, dan to the point maka akan lebih mengena dihati wisatawan.

Dan Indonesia insya Allah semakin dikenal didunia luar sebagai bangsa yang indah. :)

Tulisan sederhana ini insyaAllah diikutkan dilombanya XL di Pesta Blogger 2010 dengan tema Pemanfaatan Media Sosial untuk Indonesia

Kamis, 21 Oktober 2010


JAS putih celos dalam masalah
yang terhukumi tiang gantungan di mahkamah
hanya karena obat yang berulah

sedang kafan sudah membungkus tubuh tak bernyawa
yang siap memasuki lorong tak terduga,

Sementara tulang tak lagi sekuat karang,
menyatu menjadi satu dengan liatnya tanah kenangan.
Seperti leburnya kertas dihancurkan arogannya pasang air,

kemudian yang tertinggal hanya penyesalan semata
Berharap ada cahaya yang datang memberi hangat,
namun ternyata sia-sia!

Mencarikan Pasangan Hidup, Apa Solusinya?

Copas dari tulisan temen saat ujian stase Jiwa. Tulisannya menarik!

siang itu, diruangan yang ber-AC dan riuh menghiasi.... rasanya kursi yang kududuk berasai tidak lagi senyaman biasanya. hmmm bukan karena bahannya  gak bagus atau kayunya sudah usang tapi karena rasanya tak jenak saja duduk di sana. Degup jantungkupun tak urung ambil bagian, hentakannya didinding dada lebih semangat dari biasanya... dan si keringatpun mulai membanjiri setiap jengkal kulit yang terbungkus jas putih.

yup... aku mau ujian, ujian stase jiwa tepatnya.. rasanya lucu, sudah sering ujian tapi tetep saja gangguan panic jika saatnya tiba.

bismillah.. dokter penguji mulai menanyakan pertanyaan-pertanyaannya padaku... dan be aware "jangan gali lubang kubur sendiri coz apa yang aku jawab dipertanyaan sebelumnya.. itu yang sering jadi pertanyaan selanjutnya..
aku mengangkat kasus skizofrenia.. orang gila mungkin lebih familiar terdengar.. dan actually salah satunya disebabkan stressor "lose love object"..

pertanyaanpun diajukan.. "kalau kamu dapat pasien seperti ini.. lalu orang tua pasien bertanya kepada kamu "dok, apa sebaiknya saya carikan istri aja ya dok".. apa advice kamu?"

hmmm ga kusangka ada pertanyaan ini...

aku terdiam.. lalu aku jawab " orang skizofrenia secara kesembuhan jiwa memang tidak bisa total sembuh seperti sedia kala, tapi dengan kontrol dan obat teratur kesembuhan secara fungsi peran dapat dioptimalkan dan berjalan dengan bagus"

"trus" kata dokter kami

"trus.... saya sampaikan itu kepada keluarga, lalu saya katakan "tergantung bagaimana fungsi pernikahan itu nanti""

"hmmm maksudnya??"

"maksud saya dokter, saya sampaikan kepada keluarga bahwa dalam mencarikan pasangan hidup harusnya yang mau menerima pasien ini apa adanya.. sebelum dilakukan proses lebih lanjut dijelaskan kondisinya dan biarkan calon tersebut melihat dan menimbang lebih jauh agar tidak ada rasa keberatan..

selain itu, mengingat pasien pernah mengalami stressor cukup berat tentang masalah ini, cobalah ketika kondisi pasien mulai membaik tanyakan solusi ini menjadi kehendaknya apa tidak.. karena jangan sampai pernikahan itu justru akan menjadi stressor lebih berat bagi pasien atau menjadi stressor baru bagi sang istri..

"jadi apa saran terakhir kamu buat keluarganya"

"saya sampaikan seperti jawaban saya tadi kemudian mengembalikan keputusan yang terbaik dari keluarga dan kepada yang akan menjalani pernikahan itu sendiri yaitu pasien dan calonnya nanti...karena menurut saya dokter.. pernikahan bukan suatu akhir tapi awal..
awal dari perjalanan yang panjang.. bahkan sangat panjang...awal yang harus dipertimbangkan dan dipersiapkan dengan sebaik-baiknya.

mungkin sekilas pernikahan akan tampak sangat indah.. tapi pernikahan membutuhkan jatuh cinta berkali-kali dan selalu bersyukur atas apa yang ada pada pasangannya"
dan dokter pengujipun tersenyum..

Mengarca Rindu

Dan biarkanlah aku menyanyi
Lagu rindu ini
Temuilah aku meski itu hanya dalam mimpi!

Masih terasa hangatnya genggaman erat, dan pelukanmu wahai pria berhati lembut.

Masih saja aku rasakan betapa sakitnya batang kayu yang mendera tubuhku saat nakalku.
Wahai pria berhati lembut aku rindu. Aku rindu dengan amarahmu, aku rindu dengan pelukanmu, karena aku tahu semua itu bentuk kasih sayangmu. Tak pernah selintaspun dipikiranku untuk membencimu, karena aku tahu betapa aku mencintaimu.

Wahai pria berhati lembut, apakah engkau tahu? Aku masih saja cemburu ketika melihat sebayaku di dampingi ayah mereka, atau ketika ayah mereka memeluk erat tubuh mereka saat sedang berbahagia. Sedang aku, aku hanya membanggakanmu akan kenangan-kenangan yang pernah kita alami bersama, dan hanya memeluk sebuah bayangan. Terkadang hanya airmata yang menjadi saksi bahwa aku cemburu.

Aku masih saja ingat bentuk wajah tuamu yang keras, bentuk tubuhmu yang tidak bisa kubilang kurus, atau ketika kulihat lututmu yang bersarang peluru. Aku bangga karena engkau pejuang wahai pria berhati lembut.

Wahai pria berhati lembut, apakah kau tidak mengetahui bahwa aku marah padamu. engkau tidak pernah menyambangi tidurku, memelukku erat, atau hanya sekedar berkata, “Apa kabar anakku sayang?”

Terlintas dipikiranku saat ini ketika tubuh kakumu terkujur lemas di ruang tamu kita, atau ketika aku membisikkanmu lafal, “Allah… Allah…” dan masih saja kuingat ketika aku menyuapi sedikit demi sedikit air ke mulut kakumu. Kurasakan kakimu mulai dingin dan segera menjalar ke tubuh bagian atas. Di saat itu aku tahu aku akan ditinggalkan orang terkasihku.

Wahai pria berhati lembut aku tidak bisa melupakan senyummu, atau petuah bijakmu. Meski aku masih saja jadi anak yang susah untuk diatur. Maafkan aku.

“Apakah aku bisa bertahan 10 tahun lagi? Sampai Teguh diwisuda jadi seorang dokter?” aku ingat ucapanmu kala kita menonton televise saat itu didampingi Mimi di tengah kita. Dan aku masih ingat jawaban Mimi, “Pasti bisa lha Ma’,” hatiku miris mendengar itu.

Dan aku masih saja terpaku kaku ketika beberapa bulan kemudian engkau telah tidak ada. Allah lebih mencintaimu daripada aku.

Sudah lima tahun berlalu, namun selalu kurasakan ada yang kurang dalam kehidupanku, dan ketika ramadhan datang semuanya tampak lebih terasa. Kini aku tak lagi shalat tarawih dengan engkau sebagai imam. Dan Mimi sebagai teman shalat kita. Kita lebaran tiba aku masih ingat menunggumu di teras rumah untuk menyalamimu, memohon maaf atas semua kesalahanku. Dan aku rindu semua itu…

Wahai pria berhati lembut, aku hanya ingin mengucapkan rasa terima kasihku untuk kasih sayang tak terkira darimu, untuk perhatian tak terbatas, dan untuk harapan yang belum bisa aku wujudkan.

Wahai pria berhati lembut, aku sayang dirimu dan aku rindu.

Yogyakarta, 20 September 2007

Rabu, 20 Oktober 2010

[Lomba FF] Romi dan Yuli

Don, maaf ya aku gak bisa nerima lamaranmu.
08122987XXX
Sent 08.50 PM

Knp, Yul, aku udah jatuh cinta dan nggak ngerasain ini ke orang lain.
08992832XXX
Sent 08.52 PM

Njuk piye? aku ora seneng karo kowe! (1)
08122987XXX
Sent 09.30 PM

Yul, aku serius sama kamu! Aku tresno karo kowe (2), sueerr! berani tak kewer-kewer..
08992832XXX
Sent 09.34 PM

*****

Piye,
Yu? kowe wis ketemu Romi urung?
(3)
08122987XXX
Sent 08.30 AM

Urung, meh ngopo toh kowe karo
Romi, Romi ki wis tuwek. (4)
08182348XXX
Sent 08.35 AM

Dia jodohku!
08122987XXX
Sent 08.37 AM

Tahu dari mana kamu?
08182348XXX
Sent 08.40 AM

Aku nonton film Romeo Juliet di tipi. Aku jadi tahu siapa jodoh Yuli, Romi.
08122987XXX
Sent 08.42 AM

Edyaaan..
Jaman sekarang masih percaya begituan?
08182348XXX
Sent 08.45 AM

keterangan :
(1) Terus gimana, aku nggak suka sama kamu!
(2) Aku suka kamu!
(3) Gimana, Yu? kamu udah ketemu Romi Belum?
(4) Belum, mau apa toh kamu sama Romi, Romi itu sudah tua.
---------
kurang dari 200 kata, diikutkan dilomba disini.

[FF] Cinta Segitiga

From : Dewi
To : Firman
Subject : Selamat

Hai, selamat ya! Lu udah jadi Duta Lingkungan Hidup sekarang! Gue jadi tambah nge-fans deh! Haha.. Oia, kok lu sekarang jarang nongol di kampus lagi?

From : Firman
To : Dewi
Subject : re: Selamat

Haha, makasih-makasih. Ya, bumi udah butuh penyelamat, kalo bukan lu-gue sapa lagi coba yang bisa nyelamatin bumi? Eh iya, sejak kapan lu jadi fans gue? Penasaran gue. Gue udah nggak ngampus.

From : Dewi
To : Firman
Subject : Sejak...

Sejak gue pertama kali gue ngeliat lu, di OSIS dulu. Gue udah kagum ngeliat cara lu mimpin forum. Kenapa gak ngampus? Masalah biaya? Mungkin bisa gue bantu. Eh, memang bumi butuh kita?

From : Firman
To : Dewi
Subject : Thanks ya..

Nggak perlu Dew, lagian bukan masalah biaya kok.. Tapi gue mau fokus ke kerjaan gue dibidang lingkungan ini! Yeah, lu boleh gak percaya. Tapi gue berasa menemukan 'istri' gue di dunia ini. Bumi membutuhkan kita, dan lu udah ngerasain sendiri kalo bumi marah sama kita, kan? i know you know it, Dew! So, would you join us here?

From : Dewi
To : Firman
Subject : re : Thanks ya..

I'll think about it, Man! Soalnya gue masih marah sama bumi, karenanya gue gak punya Ayah! Damn! Lupakan bumi, gue muak!

*****

You have an instant message from : Firman

Firman : Masih marah kah, lu sama bumi?

Dewi : hmmm...

Firman : Jadi, bumi yang salah? Bumi gak punya kesempatan untuk bicara?

Dewi : Lu, juru bicara 'istri' ya? Bilang sama dia gue sakit hati

Firman : Bukan salah orang yang ngerusak bumi ya? Kan mereka duluan yang bikin bumi marah?

Dewi : Kalo bumi marah, kenapa bokap gue yang harus pergi? Bukan mereka?

Firman : Bumi ingin, tapi bumi nggak bisa, pasti bumi punya maksud lain. Gue yakin. Lu percaya?

Dewi : Lu ke rumah gue sekarang! Gue butuh lu! Gue butuh punggung lu!

Firman sign out...

*****
From : Firman
To : Dewi
Subject : Lagi dimana?

Aih, kok sekarang aku yang ditinggal di rumah? Kamu malah asik berkencan sama bumi! Aku cemburu... Kamu lagi dimana sekarang?

From : Dewi
To : Firman
Subject : re: Lagi dimana?

Hihi, salah siapa, Mas? Kan dirimu yang mengenalkan aku sama bumi, membuatku jatuh cinta sama bumi! Kurasa dia suami terbaik dibanding dirimu, sayang! Sekarang aku lagi penyuluhan di Papua. Pantainya indah.. Kecup untuk suamiku di rumah.

From : Firman
To : Dewi
Subject : Love, Love, Love

Aku mencintaimu, melebihi aku mencintai bumi. Aku kagum, sayang. Melihat perjuanganmu memaafkan bumi. Melihatmu mencintaiku, apa adanya aku, menjadikan aku dan bumi pengantin semestamu. Aku yakin kau jodohku.

Love, suamimu.

-----------
Total : 444 kata diluar judul.

Tulisan ini diikutkan dilomba Pengantin Semesta-nya Perpustakaan Abatasa link disini.

Profesi, Integritas, dan Profesionalitas

"Wah, keren! Jadi dokter!"

Setiap kali orang bertanya tentang profesi apa yang tengah atau telah digeluti, ketika mereka menjawab "Dokter" maka sebagian besar akan berkomentar seperti itu dengan berbagai sinonimnya.

Dimata mereka dokter merupakan profesi yang wah, selain membutuhkan uang yang banyak dan kemampuan akademis yang mumpuni. Setiap orang yang menjadi dokter pasti akan kaya, setidaknya membalikkan modal yang telah dikeluarkan saat menempuh pendidikan.

Dokter itu seperti dewa bagi beberapa orang, seseorang yang memiliki kemampuan--harus--menyembuhkan orang lain yang datang kepadanya.

"Dok, pokoknya saya ikut apa saja saran dokter, asalkan saya sembuh!"

"Dok, saya bisa sembuh, kan?"

Saya masih ingat ketika masuk bagian Kulit dan Kelamin, ada satu pasien datang mengaku berdomisili di Singapura meski terkadang mudik ke Indonesia.

"Dokter X itu dewa, saya udah berobat kemana saja, meminum obat apa saja. Tapi tidak sembuh, tapi ketika ketemu dokter X, bisa langsung sembuh!"

Ketika sang dokter menunjukkan wajah berpikir, dan sambil berberat hati untuk berkata, "Kita usahakan untuk perbaikan kondisi pasien, Bu!" terkadang ada reaksi yang seharusnya tidak muncul, karena dokter itu manusia, toh yang menyembuhkan segala penyakit itu Tuhan melalui peranta dokter dan pengobatan yang diberikan.

Dokter juga manusia, memiliki alpa, khilaf yang semestinya dapat dipahami atau setidaknya bisa saling mengingatkan akan hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan. Malpraktik, sesuatu yang bisa dihindari baik dari segi dokter--sebagai pelaksana kesehatan, tapi bisa juga dari pasien sebagai kontrol atas apa yang dilakukan dokter.

Pasien juga punya hak untuk menerima dan menolak apa yang sudah disarankan oleh dokter. Sehingga bisa meminimalisir sesuatu yang tidak kita inginkan.

Balik lagi ke topik awal, semua profesi itu sama, karena semuanya menuntut profesionalitas dan integritas dalam menjalani dan mengamalkan apa yang telah dipelajari. Toh, percuma jika seorang dokter atau hakim tidak memiliki sikap yang mencerminkan siapa mereka.

Dokter akan menjadi (maaf) sampah jika tidak dapat menempatkan diri, dan menggunakan keleluasaan yang telah diberikan dengan tidak bertanggung jawab. Berbeda dengan para kuli bangunan yang bisa jadi menjadi berlian ditumpukkan kotoran, ketika mereka menjunjung tinggi asas kejujuran dan kerja keras.

Bahkan tukang becak-pun memiliki integritas dan profesionalitas, tidak semua orang mampu menjadi tukang becak. Karena sebagai tukang becak tidak hanya harus memiliki kemampuan untuk mengontel becak dengan sekuat tenaga dan keikhlasan, tapi juga keahlian negosiasi dalam hal harga.

Mereka punya integritas mengantar pelanggan mereka sampai tujuan akhir, dan mereka tidak pernah mengeluh, kecuali jika sang pengguna pelayanan tidak menepati perjanjian yang telah disepakati.

Semua profesi itu indah, menarik, menantang tergantung dari mana kita melihat, menjalankan, dan menikmatinya. Banyak yang menganggap profesi yang mereka geluti tidak lah mencerminkan jati diri mereka, padahal sebenarnya hanya karena mereka melihat sisi kesenangan profesi lain, tanpa harus repot-repot memikirkan hal-hal yang akan membuatnya rumit.

Semua profesi itu sama dengan uang, jika diimbangi kerja keras, ide cemerlang dan do'a. Meski usaha sudah maksimal, otak sudah dipergunakan dengan semestinya, tanpa do'a kepada Tuhan Sang Pemberi Rezeki. Tuhanlah yang memiliki kuasa menentukan apakah kita layak mendapatkan rezeki yang setimpal dengan apa yang telah kita usahakan.

Jadi, apapun profesi yang kita geluti, kembali lagi kepada kita yang menjalaninya. Apakah kita siap menjalaninya dengan integritas dan profesionalitas (?)

tulisan asli bisa dilihat diblog saya disini yang diikutkan dilomba Creative Writing #pb2010 disini