Copas dari tulisan temen saat ujian stase Jiwa. Tulisannya menarik!
siang itu, diruangan yang ber-AC dan riuh menghiasi.... rasanya kursi yang kududuk berasai tidak lagi senyaman biasanya. hmmm bukan karena bahannya gak bagus atau kayunya sudah usang tapi karena rasanya tak jenak saja duduk di sana. Degup jantungkupun tak urung ambil bagian, hentakannya didinding dada lebih semangat dari biasanya... dan si keringatpun mulai membanjiri setiap jengkal kulit yang terbungkus jas putih.
yup... aku mau ujian, ujian stase jiwa tepatnya.. rasanya lucu, sudah sering ujian tapi tetep saja gangguan panic jika saatnya tiba.
bismillah.. dokter penguji mulai menanyakan pertanyaan-pertanyaannya padaku... dan be aware "jangan gali lubang kubur sendiri coz apa yang aku jawab dipertanyaan sebelumnya.. itu yang sering jadi pertanyaan selanjutnya..
aku mengangkat kasus skizofrenia.. orang gila mungkin lebih familiar terdengar.. dan actually salah satunya disebabkan stressor "lose love object"..
pertanyaanpun diajukan.. "kalau kamu dapat pasien seperti ini.. lalu orang tua pasien bertanya kepada kamu "dok, apa sebaiknya saya carikan istri aja ya dok".. apa advice kamu?"
hmmm ga kusangka ada pertanyaan ini...
aku terdiam.. lalu aku jawab " orang skizofrenia secara kesembuhan jiwa memang tidak bisa total sembuh seperti sedia kala, tapi dengan kontrol dan obat teratur kesembuhan secara fungsi peran dapat dioptimalkan dan berjalan dengan bagus"
"trus" kata dokter kami
"trus.... saya sampaikan itu kepada keluarga, lalu saya katakan "tergantung bagaimana fungsi pernikahan itu nanti""
"hmmm maksudnya??"
"maksud saya dokter, saya sampaikan kepada keluarga bahwa dalam mencarikan pasangan hidup harusnya yang mau menerima pasien ini apa adanya.. sebelum dilakukan proses lebih lanjut dijelaskan kondisinya dan biarkan calon tersebut melihat dan menimbang lebih jauh agar tidak ada rasa keberatan..
selain itu, mengingat pasien pernah mengalami stressor cukup berat tentang masalah ini, cobalah ketika kondisi pasien mulai membaik tanyakan solusi ini menjadi kehendaknya apa tidak.. karena jangan sampai pernikahan itu justru akan menjadi stressor lebih berat bagi pasien atau menjadi stressor baru bagi sang istri..
"jadi apa saran terakhir kamu buat keluarganya"
"saya sampaikan seperti jawaban saya tadi kemudian mengembalikan keputusan yang terbaik dari keluarga dan kepada yang akan menjalani pernikahan itu sendiri yaitu pasien dan calonnya nanti...karena menurut saya dokter.. pernikahan bukan suatu akhir tapi awal..
awal dari perjalanan yang panjang.. bahkan sangat panjang...awal yang harus dipertimbangkan dan dipersiapkan dengan sebaik-baiknya.
mungkin sekilas pernikahan akan tampak sangat indah.. tapi pernikahan membutuhkan jatuh cinta berkali-kali dan selalu bersyukur atas apa yang ada pada pasangannya"
dan dokter pengujipun tersenyum..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar