"Wah, keren! Jadi dokter!"
Setiap kali orang bertanya tentang profesi apa yang tengah atau telah digeluti, ketika mereka menjawab "Dokter" maka sebagian besar akan berkomentar seperti itu dengan berbagai sinonimnya.
Dimata mereka dokter merupakan profesi yang wah, selain membutuhkan uang yang banyak dan kemampuan akademis yang mumpuni. Setiap orang yang menjadi dokter pasti akan kaya, setidaknya membalikkan modal yang telah dikeluarkan saat menempuh pendidikan.
Dokter itu seperti dewa bagi beberapa orang, seseorang yang memiliki kemampuan--harus--menyembuhkan orang lain yang datang kepadanya.
"Dok, pokoknya saya ikut apa saja saran dokter, asalkan saya sembuh!"
"Dok, saya bisa sembuh, kan?"
Saya masih ingat ketika masuk bagian Kulit dan Kelamin, ada satu pasien datang mengaku berdomisili di Singapura meski terkadang mudik ke Indonesia.
"Dokter X itu dewa, saya udah berobat kemana saja, meminum obat apa saja. Tapi tidak sembuh, tapi ketika ketemu dokter X, bisa langsung sembuh!"
Ketika sang dokter menunjukkan wajah berpikir, dan sambil berberat hati untuk berkata, "Kita usahakan untuk perbaikan kondisi pasien, Bu!" terkadang ada reaksi yang seharusnya tidak muncul, karena dokter itu manusia, toh yang menyembuhkan segala penyakit itu Tuhan melalui peranta dokter dan pengobatan yang diberikan.
Dokter juga manusia, memiliki alpa, khilaf yang semestinya dapat dipahami atau setidaknya bisa saling mengingatkan akan hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan. Malpraktik, sesuatu yang bisa dihindari baik dari segi dokter--sebagai pelaksana kesehatan, tapi bisa juga dari pasien sebagai kontrol atas apa yang dilakukan dokter.
Pasien juga punya hak untuk menerima dan menolak apa yang sudah disarankan oleh dokter. Sehingga bisa meminimalisir sesuatu yang tidak kita inginkan.
Balik lagi ke topik awal, semua profesi itu sama, karena semuanya menuntut profesionalitas dan integritas dalam menjalani dan mengamalkan apa yang telah dipelajari. Toh, percuma jika seorang dokter atau hakim tidak memiliki sikap yang mencerminkan siapa mereka.
Dokter akan menjadi (maaf) sampah jika tidak dapat menempatkan diri, dan menggunakan keleluasaan yang telah diberikan dengan tidak bertanggung jawab. Berbeda dengan para kuli bangunan yang bisa jadi menjadi berlian ditumpukkan kotoran, ketika mereka menjunjung tinggi asas kejujuran dan kerja keras.
Bahkan tukang becak-pun memiliki integritas dan profesionalitas, tidak semua orang mampu menjadi tukang becak. Karena sebagai tukang becak tidak hanya harus memiliki kemampuan untuk mengontel becak dengan sekuat tenaga dan keikhlasan, tapi juga keahlian negosiasi dalam hal harga.
Mereka punya integritas mengantar pelanggan mereka sampai tujuan akhir, dan mereka tidak pernah mengeluh, kecuali jika sang pengguna pelayanan tidak menepati perjanjian yang telah disepakati.
Semua profesi itu indah, menarik, menantang tergantung dari mana kita melihat, menjalankan, dan menikmatinya. Banyak yang menganggap profesi yang mereka geluti tidak lah mencerminkan jati diri mereka, padahal sebenarnya hanya karena mereka melihat sisi kesenangan profesi lain, tanpa harus repot-repot memikirkan hal-hal yang akan membuatnya rumit.
Semua profesi itu sama dengan uang, jika diimbangi kerja keras, ide cemerlang dan do'a. Meski usaha sudah maksimal, otak sudah dipergunakan dengan semestinya, tanpa do'a kepada Tuhan Sang Pemberi Rezeki. Tuhanlah yang memiliki kuasa menentukan apakah kita layak mendapatkan rezeki yang setimpal dengan apa yang telah kita usahakan.
Jadi, apapun profesi yang kita geluti, kembali lagi kepada kita yang menjalaninya. Apakah kita siap menjalaninya dengan integritas dan profesionalitas (?)
tulisan asli bisa dilihat diblog saya disini yang diikutkan dilomba Creative Writing #pb2010 disini
Tidak ada komentar:
Posting Komentar