Kamis, 21 Oktober 2010

Mengarca Rindu

Dan biarkanlah aku menyanyi
Lagu rindu ini
Temuilah aku meski itu hanya dalam mimpi!

Masih terasa hangatnya genggaman erat, dan pelukanmu wahai pria berhati lembut.

Masih saja aku rasakan betapa sakitnya batang kayu yang mendera tubuhku saat nakalku.
Wahai pria berhati lembut aku rindu. Aku rindu dengan amarahmu, aku rindu dengan pelukanmu, karena aku tahu semua itu bentuk kasih sayangmu. Tak pernah selintaspun dipikiranku untuk membencimu, karena aku tahu betapa aku mencintaimu.

Wahai pria berhati lembut, apakah engkau tahu? Aku masih saja cemburu ketika melihat sebayaku di dampingi ayah mereka, atau ketika ayah mereka memeluk erat tubuh mereka saat sedang berbahagia. Sedang aku, aku hanya membanggakanmu akan kenangan-kenangan yang pernah kita alami bersama, dan hanya memeluk sebuah bayangan. Terkadang hanya airmata yang menjadi saksi bahwa aku cemburu.

Aku masih saja ingat bentuk wajah tuamu yang keras, bentuk tubuhmu yang tidak bisa kubilang kurus, atau ketika kulihat lututmu yang bersarang peluru. Aku bangga karena engkau pejuang wahai pria berhati lembut.

Wahai pria berhati lembut, apakah kau tidak mengetahui bahwa aku marah padamu. engkau tidak pernah menyambangi tidurku, memelukku erat, atau hanya sekedar berkata, “Apa kabar anakku sayang?”

Terlintas dipikiranku saat ini ketika tubuh kakumu terkujur lemas di ruang tamu kita, atau ketika aku membisikkanmu lafal, “Allah… Allah…” dan masih saja kuingat ketika aku menyuapi sedikit demi sedikit air ke mulut kakumu. Kurasakan kakimu mulai dingin dan segera menjalar ke tubuh bagian atas. Di saat itu aku tahu aku akan ditinggalkan orang terkasihku.

Wahai pria berhati lembut aku tidak bisa melupakan senyummu, atau petuah bijakmu. Meski aku masih saja jadi anak yang susah untuk diatur. Maafkan aku.

“Apakah aku bisa bertahan 10 tahun lagi? Sampai Teguh diwisuda jadi seorang dokter?” aku ingat ucapanmu kala kita menonton televise saat itu didampingi Mimi di tengah kita. Dan aku masih ingat jawaban Mimi, “Pasti bisa lha Ma’,” hatiku miris mendengar itu.

Dan aku masih saja terpaku kaku ketika beberapa bulan kemudian engkau telah tidak ada. Allah lebih mencintaimu daripada aku.

Sudah lima tahun berlalu, namun selalu kurasakan ada yang kurang dalam kehidupanku, dan ketika ramadhan datang semuanya tampak lebih terasa. Kini aku tak lagi shalat tarawih dengan engkau sebagai imam. Dan Mimi sebagai teman shalat kita. Kita lebaran tiba aku masih ingat menunggumu di teras rumah untuk menyalamimu, memohon maaf atas semua kesalahanku. Dan aku rindu semua itu…

Wahai pria berhati lembut, aku hanya ingin mengucapkan rasa terima kasihku untuk kasih sayang tak terkira darimu, untuk perhatian tak terbatas, dan untuk harapan yang belum bisa aku wujudkan.

Wahai pria berhati lembut, aku sayang dirimu dan aku rindu.

Yogyakarta, 20 September 2007

Tidak ada komentar:

Posting Komentar